Minggu, 27 Mei 2012

" MANAJEMEN DALAM RUMAH TANGGA "

Manajemen dan Kepemimpinan dalam Rumah Tangga


James A.F. Stoner


Manajemen adalah suatu proses perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengendalian upaya dari anggota organisasi serta penggunaan semua sumber daya yang ada pad
a organisasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.

Mary Parker Foller


Manajemen sebagai suatu seni karena untuk melakukan suatu pekerjaan melalui orang lain dibutuhkan keterampilan khusus.


Nickels, McHugh and McHugh


Manajemen adalah sebuah proses yang dilakukan untuk mewujudkan tujuan organisasi melalui rangkaian kegiatan berupa perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian orang-orang serta sumber daya organisasi lainnya.


Jadi, dari pendapat ketiga buyutnya manajemen di atas bisa disimpulkan keywordnya adalah : PROSES, ORGANISASI, PEMIMPIN, ANGGOTA, SUMBERDAYA, SENI DAN SKILL, TUJUAN.


Jika dihubungkan dengan kehidupan berumah tangga, pastilah proses itu adalah pernikahan, organisasi adalah rumah tangga, sumberdayanya adalah manusia, ruang, waktu, dan asset, seni dan skill (butuh juga loh – mendidik anak, menjadi menantu idaman mertua, memasak, mengelola keuangan dalam rumah tangga, dsb), serta tujuan pernikahan.


Sedangkan kepemimpinan dalah kapasitas mengendalikan diri dan lingkungan untuk mencapai cita-cita. Kepemimpinan dalam sebuah rumah tangga dipegang oleh qawam (suami). Untuk mewujudkan tujuan keluarga dibutuhkan adanya kejelasan visi berupa keteladanan dalam perjuangan, seni mengalokasikan sumber daya yang dimiliki, dan siklus kerangka kerja. Sebagaimana telah disebutkan dalam QS An Nisa 34 
:


“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang ta’at kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka) . Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya , maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menta’atimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” 



Konsekuensinya :


Pertama, kepemimpinan yang diterapkan dalam sebuah keluarga haruslah terbuka dan egaliter, tak ada istilah “Surgo nunut, neraka katut”. Sehingga sangat perlu diterapkan fungsi manajemen yang banyak dikenal masyarakat saat ini yaitu perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pengarahan (directing), dan pengendalian (controlling).


Kedua, menciptakan kesepakatan up in front, hold on it. Kesepakatan seperti panggilan, boleh nggak istri berkarir, rumah nunut ortu atau beli sendiri, izinnya gimana, harus dimasukkan ke dalam agenda malam pertama. Seperti yang dulu saya pernah tulisan di artikel “psikologi adam dan hawa”. Bagi yang sudah lama menjalin hubungan tanpa status (alias pacaran) harusnya lebih mantap dong untuk menikah. Apalagi yang sudah bertahun-tahun (habis berapa duit tuh buat jalan, beli pulsa, nraktir makan ngasi kado. Tapi kalo buat nikah dibilangnya nggak punya duit. Hmm sungguh terlalu). Yang ditunggu apa?


Lima prinsip dasar dalam membuat kesepakatan : basis yang kuat, selalu ada opsi, mencari efisiensi, ada keluwesan, sadar keterbatasan (penjelasan lebih detil next time, insyaallah).


Ketiga, mengalokasikan sumber daya. Baik yang berupa keluarga, ruang dan waktu, uang dan harta benda lainnya

" SIFAT "


Sifat Menutupi Jasad, Jasad Menutupi Sifat


Hidup didunia memang penuh tipuan. Satu orang yang mempunyai sifat suka mencuri tapi ditutupi dengan jasadnya, penampilannya dengan baju yang bagus dan berdasi. Sehingga orang lain pun tak tahu bahwa di memang pencuri. Satu orang yang yang mempunyai sifat dengki, hasad, sombong tidak akan bisa dilihat karena ditutupi oleh jasadnya yang dibuat seindah mungkin. Untuk menutupi sifat-sifatnya yang tidak baik ditutupi dengan penampilan jasad yang baik.

Sebaliknya diakherat akan dibalik sifat menutupi jasad. Apa saja sifat-sifat kita begitulah wujud jasad kita diakherat nanti. Akan ada 12 barisan diakherat. Jasadnya seperti babi hutan karena didunia sifatnya pun lebih rendah dari babi hutan sering meringan-ringankan shalat. Jasadnya berbentuk keledai karena enggan membayar zakat. Barisan terakhir jasadnya penuh dengan sinar laksana bulan purnama. Inilah orang yang beramal saleh dan banyak berbuat baik dan mengajak orang kepada kebaikan.

Sifat yang kurang baik didunia bisa ditutupi dengan penampilan jasad yang baik tapi diakherat, bagai mana sifat kita didunia maka begitulah penampilan jasad kita diakherat nanti. Sifat yang baik akan menghasilkan jasad yang baik. Sifat yang buruk akan menghasilkan jasad yang buruk.

Di Yaumul Hisab nanti setiap manusia akan jadi terdakwa.
Terdakwa : Ayah
Jaksa penuntut umum : istri dan anak
Hakim : Allah SWT

Satu langkah lagi sang ayah akan memasuki surga. Istri dan anaknya berkata : “Tunggu dulu, jangan masukan dia kedalam surga karena didunia dia tidak pernah mengajak kami kepada kebaikan”.

Sang anak berkata : “Kalau saya tinggal kelas, ayah akan pukul saya tapi kalau saya tinggalkan shalat ayah tak pernak pukul saya”

Dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiallahu anhuma dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Perintahkanlah anak-anak kalian untuk melaksanakan shalat apabila sudah mencapai umur tujuh tahun, dan apabila sudah mencapai UMUR SEPULUH TAHUN MAKA PUKULLAH mereka apabila tidak melaksanakannya, dan pisahkanlah mereka dalam tempat tidurnya.” (HR. Abu Daud)

Sang istri berkata : “Kalau saya keluar rumah tidak pake jilbab, suami saya tidak pernah marah.
Allah SWT berfirman, “Katakanlah kepada wanita yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak darinya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, …
” (QS. An-Nuur 31).

Anak dan istri yang tidak didik dengan agama akan jadi Jaksa penuntut buat sang ayah nanti di Yaumul Hisab. Sebaliknya anak dan istri yang didik dalam agama akan menjadi Pengacara buat ayah di Yaumul Hisab.

Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…
” (QS. Attahrim 6)

Pernahkah satu orang ayah menghidupkan agama di keluarganya…?

Pulang kerumah langsung nonton TV, makan, berhubungan suami istri. Hari-hari itulah rutinitas sang ayah.
Pernahkah kita mengajak istri dan anak. Dek, nak, kita baca dua tiga hadist atau dongeng sebelum tidur “Membaca Hayatus sahabah” kehidupan orang yang sukses dalam agama.

Untuk membiasakan baca hadist dan menghidupkan agama dalam keluarga kita juga perlu proses. Belajar ikut keluar 3 hari supaya ada kekuatan menghidupkan agama dalam kehidupan dan keluarga kita.

Dengan keluar 3 hari sifat-sifat yang buruk dalam diri kita akan berubah menjadi sifat-sifat yang baik. Sifat yang baik akan menghasilkan jasad yang baik yang penuh dengan cahaya.

Istri dan anak pun akan menjadi Pengacara/penolong kita di Yaumul Hisab nanti.

27 hari kita buat usaha atas dunia yang pasti dan pasti kita tinggalkan kenapa kita tidak bisa meluangkan waktu 30 menit dalam sehari untuk bekal akhirat yang selama-lamanya

WARNA - WARNI DALAM PERNIKAHAN

Kupinang Kau dengan Basmalah, Kucerai Kau dengan Hamdalah


Mudahnya bilang cinta…
Hanya karena suka…
Tak terasa terlena….
Banyak hati kecewa…

Sepenggal lagu dari Dewi Yull (eh ternyata Andi Meriem) ini bila tak dilanjutkan ke bait berikutnya agak kontekstual dengan apa yang ingin saya tulis kali ini. Tentang orang-orang yang begitu mudahnya memutuskan untuk menikah, semudah memutuskan untuk bercerai.

Tentu semua yang terjadi, termasuk pernikahan dan mungkin perceraian, adalah kehendak-Nya. Namun pada satu sisi, semua juga terjadi berdasarkan hukum kausal. Ada sebab musababnya hingga kemudian itu semua terjadi.

Saya punya kerabat. Dia menikah setelah 7 atau 8 tahun berpacaran. Semua yang menyangkut pesta pernikahan dipersiapkan dengan matang. Gedung, mas kawin, seserahan, undangan, seragam untuk keluarga, among tamu dan lain sebagainya. Hingga kerabat saya ini menyewa jasa wedding organizer demi memastikan jalannya pernikahan itu sempurna. Pernikahan pun berlangsung lancar.
Mas kawin pun bukan yang biasanya diterapkan orang-orang. Bila orang Islam biasanya memberikan mas kawin berupa Alquran dan alat perlengkapan salat, dengan tujuan agar Alquran menjadi pegangan hidup dan salat tak pernah ditinggalkan, sehingga akan ikut menjaga akhlak, kerabat saya ini memberikan mas kawin yang cukup unik dan spesial: sebuah buku/novel berjudul “Kupinang Kau dengan Basmalah”. Belakangan setahu saya buku ini diadaptasi dalam bentuk sinetron di layar gelas dengan judul sama.

Namun lamanya pacaran, persiapan pesta yang matang, mas kawin yang unik, ternyata bukan jaminan untuk langgengnya pernikahan. Belum genap setahun menikah, pasangan kerabat saya itu sudah tidak “berkumpul” alias pisah ranjang. Mereka dikaruniai satu anak. Namun keberadaan anak semata wayang itu pun tak menjadi alasan keduanya untuk tunduk pada ikatan pernikahan. Ego pribadi tetap mendominasi. Mereka pun menempuh perbuatan yang walau halal namun dibenci Tuhan: BERCERAI. Perceraian secara resmi terjadi di tahun ke-4 pernikahan.

Anak mereka yang baru 3 tahun itu pun menjadi korban perceraian yang tak bisa dihindarkan. Maka mas kawin berupa novel “Kupinang Kau dengan Basmalah” akhirnya layak diganti judulnya dengan “Kucerai Kau dengan Hamdalah”.
Singkat cerita, belum setahun berselang semenjak perceraian, pasangan yang sudah bercerai ini menemukan pasangan pengganti masing-masing. Mereka sudah sama-sama menikah sekarang. Sekali lagi saya melihat persiapan pesta pernikahan yang begitu terencana. Dari gedung, baju pengantin, cincin kawin, seragam among tamu, seserahan dipersiapakn secara matang. Bahkan kerabat saya ini sebelum ijab kabul “terpaksa” membeli mobil dan perabotan rumah tangga yang semuanya baru, karena pasangan barunya mensyaratkan hal tersebut. Dia tak mau menyentuh apapun yang pernah disentuh mantan pasangan kerabat saya.

Malah yang saya lihat, persiapan pernikahan kedua ini lebih heboh. Bila pada pernikahan yang pertama dulu cukup 2 kali yaitu sekali ijab kabul dan langsung walimah di tempat pengantin putri serta sekali di tempat pengantin laki-laki, kini pestanya berlangsung 4 kali. Pesta midodareni di rumah pengantin puteri, lalu ijab kabul di sebuah masjid terkemuka yang dipaskan dengan hari ulang tahun pengantin perempuan, dengan mas kawin berupa perhiasan yang takaran beratnya juga merupakan simbol tanggal-bulan-tahun pernikahan. Kemudian pesta resepsi besar-besaran yang berlangsung 2 bulan kemudian, dan pesta ngundhuh mantu di tempat pengantin laki-laki.

Yang bikin hati saya perih, anak dari kerabat saya itu saat pesta “disembunyikan”, karena pengantinnya takut si anak yang masih Balita mengganggu pesta pernikahan. Sementara bukan sekali-dua kali saya melihat pesta-pesta pernikahan para janda dan duda beranak, anak mereka ada di tengah-tengah pesta. Mereka tidak jaim, dan keberadaan anak di pesta pernikahan terlihat alami, tidak menganggu. Kalaupun itu terjadi, ya wajarlah karena masih anak-anak.

Saya kira patut disayangkan ketika pasangan menikah lebih mementingkan persiapan agar pesta pernikahan agar berlangsung sempurna, serta hal-hal yang bersifat simbolis lainnya. Namun di lain pihak mereka malah melupakan esensi pernikahan itu sendiri, yaitu persiapan mentalitas. Menikah itu bukan sekadar masalah pesta, lalu selesai.

Setelah pesta usai, dan tamu undangan pulang, riasan pengantin akan dihapus. Dekorasi dibongkar. Baju pengantin ditanggalkan. Undangan yang dilengkapi foto narsis pre wedding sudah kedaluwarsa. Sebagai gantinya, mereka akan mengarungi hidup bersama, menyatukan dua kepala, dua hati yang berarti dua ego yang berbeda. Menikah adalah menyatukan perbedaan. Menikah adalah saling menerima, bukan hanya menerima kelebihan, namun juga kelemahan pasangan. Bila pasangan punya anak, anak harus diterima dan diperlakukan seperti anak sendiri. Apakah mereka siap?

Bila belum-belum anak sudah “disembunyikan” karena jaim ditambah kekhawatiran akan mengganggu, saya tidak berani menjamin apakah si mungil itu tidak akan diperlakukan sebagai pengganggu di hari-hari berikutnya? Sungguh malang nasib si anak.

Melalui postingan ini saya hanya ingin mengingatkan, bahwa persiapan mentalitas sebaiknya diutamakan dalam pernikahan. Lebih baik melangsungkan pesta yang sederhana, namun menjalani pernikahan dengan dengan sempurna. Daripada mempersiapkan pesta yang sempurna, lalu menjalani pernikahan ala kadarnya.

Membuat pesta pernikahan yang heboh tentu tak ada salahnya. Merencanakan pesta yang sempurna adalah keinginan setiap pengantin. Namun sebaiknya itu semua diiringi dengan kesiapan hati dan jiwa untuk menjalani dan menjaga pernikahan tetap langgeng, hingga ajal menjemput. Caranya?


- Mampu meredam ego masing-masing. Menjadikan kepentingan salah satu menjadi kepentingan bersama. Tak ada lagi saya dan kamu, kini adanya: “kita” dan “kami”.

- Menerima kelebihan dan kekurangan pasangan.

- Merangkul keluarga pasangan dan memperlakukannya seperti keluarga sendiri.

- Mencintai anak pasangan (bila ada) sebagaimana mencintai anak sendiri.

- Ketika ada masalah, selalu mengingat kenapa dulu memutuskan untuk menikah, dan bukan sibuk mencari-cari alasan untuk bercerai.

Ada lagi satu tips yang berdasaran pengalaman saya pribadi selama mengarungi pernikahan.

- Bila ada masalah, cara untuk meredamnya adalah DIAM untuk sementara . Untuk beberapa waktu kami memilih diam. Ternyata waktu adalah obat yang baik untuk me-recovery emosi yang tak stabil.

- Jangan pulang dan melibatkan orangtua dalam masalah. Sekali melibatkan orangtua, tentu orangtua akan berpihak pada kita. Orangtua tak akan bisa bersikap netral. Tanpa menyelami apa yang sebenarnya terjadi, tentu semua orangtua akan membela kepentingan anaknya. Melibatkan orangtua dalam masalah kita akan memperunyam keadaan.
 
 
Berapa banyak kita saksikan para public figur yang menikah hanya seumur jagung. Padahal pernikahan itu dipersiapkan dengan penuh kemewahan, dan heboh sebagaimana laporan infotainment. Begitu mudah menikah. Begitu mudah pula bercerai. Semoga kita tidak seperti itu. Kalaupun perceraian terjadi, semoga menjadi pelajaran berharga, dan pasangan-pasangan itu memperbaiki diri, mengoreksi kesalahan di masa lampau, untuk merenda hari esok yang lebih baik.
Orang itu berjalan diantara hujan dan harapan doa

Disela-sela musim hujan ini dan di saat Allah menurunkan air segarnya dari langit, hampir kebanyakan manusia menikmatinya dengan mencari kehangatan di rumahnya atau bahkan tidur nyenyak di sangkar hangatnya. Lain halnya dengan apa yang dilakukan kakek itu yang ternyata masih memiliki tanggungan anak kecil. Secara diam-diam kakek tersebut keluar dari rumah setelah anaknya tidur. Kakek tersebut keluar rumah jalan kaki sambil menikmati turunnya hujan.


Sampailah sang kakek di rumah temannya yang dulu pernah menjadi rekan kerjanya. Dengan nada merendah dan suara terbata-bata kakek tersebut berterus terang untuk meminjam sejumlah uang. Uang tersebut rencananya akan digunakan untuk menutupi kekurangan biaya yang dikeluarkan untuk membiaya anak kecilnya yang masih sekolah. Sayangnya temannya tersebut belum mampu untuk membantu sang Kakek. Dengan perasaan kecewa mungkin, namun dalam wajah beliau kuatkan dengan raut wajah tersenyum kakek tersebut mengucapkan terima kasih. Sang kakek berpamitan, berjalan begitu cepat dan masih tetap semangat di bawah rezki air yang Allah turunkan.


 Setidaknya kakek tersebut telah menunjukkan "ini lho ya Allah, aku nikmati hujanmu dengan tetap berikhtiar demi anakku. Aku keluar dari rumah untuk mencari nafkah, dan ini adalah pilihan terakhir. Namun Engkau telah mengetahui kan Allah, bahwa aku keluar bukan untuk meminta namun untuk untuk meminjam amanah dari orang-orang yang bisa membantuku". Kakek tersebut mungkin akan terus berjalan sampai Allah benar-benar membuktikan kemurahan-Nya. Bisa jadi pula ketika lelah kakek itu akan kembali ke rumah untuk sekedar melenyapkan rasa lelah. Semoga saja di tengah-tengah perjalanan, kakek itu benar-benar mendapat berkah dari turunnya hujan.


Ini adalah peristiwa yang menyentuh hati saya 1 (satu) hari yang lalu dan mungkin disaat itu kita sedang hangat-hangatnya berada di balik selimut. Coba bayangkan jika kita yang menjadi anaknya. Kakek tersebut sudah pulang saat kita masih nyenyak tidur. Di kala bangun dengan ringannya kita minta uang saku untuk beli makanan ringan. Dengan ringannya kita menanyakan makanan apa saja yang bisa dimakan. Dengan mudahnya kita ngambek di saat orang tua tidak bisa memberikan apa yang kita harapkan. Dengan mudahnya kita keluar rumah setelah bangun dari tidur tanpa menanyakan ke orang tua kita apa yang mereka minta.


 Lantas apakah sempat kita bertanya apa yang mereka lakukan ketika kita tidur siang disaat hujan turun. Atau apa saja yang dilakukan orang tua kita dalam sepertiga malam di saat kita sedang pulas tidur. Jarang sekali dan bahkan tidak pernah sebagian dari kita menanyakan hal-hal tersebut. Di pagi hari uang saku harus ada dikala kita meminta hingga kita lupa untuk minta doa restu dalam bentuk bersalaman. Saat di sekolah kita sudah gregetan untuk marah atau ngambek karena banyak tagihan dari sekolah yang belum bisa dibayarkan orang tua kita.


 Di kala pulang tanpa mengucapkan salam kita sudah marah karena hal tadi, menanyakan makanan apa sudah siap belum, bagaimana dengan jatah bulanan kita, kapan ayah akan membelikan sepeda motor baru, kapan ayah dan ibu mengajak kita jalan-jalan, kapan aku bisa berangkat sekolah lebih awal tanpa harus jalan kaki dan kehujanan dan kapan kita bisa hidup enak dan nyaman.
Sampai kapan kita akan terus mengeluhkan oran tua kita. Sampai kapan kita akan terus merepotkan mereka berdua.


 Sampai kapan kita akan terus membebani mereka. Dan ketika mereka sudah tua, kita anggap mereka sebagai beban. Yang mengerikan ada sebagian dari kita mengirimkan orang tua kita yang sudah renta ke panti jompo.
Seperti itukah akhlah kita?
Seperti itukah balasan terhadap orang tua kita?
Akan terus menerus kah kita menjadi beban mereka?
Dan apakah selanjutnya justru kita anggap mereka sebagai beban ketika mereka sudah tidak mampu lagi berjalan?


Sementara jelas dalam Islam, sebesar apapun balasan kita tetap tidak akan pernah setimpal dengan apa yang dilakukan orang tua untuk kita. Yang bisa kita lakukan hanya berbuat baik (birul walidain) selama mereka hidup dan senantiasa mendoakan di kala mereka sudah meninggalkan kita.
Kain putih apa yang akan terlebih dahulu kita lihat saat orang tua kita memakainya?
Kain putih yang membuat kita menyesal begitu dalam saat kita mengenakan kain kafan ke orang tua kita? Atau
Kain penuh deru air mata kebahagiaan saat melihat mereka mengenakan baju Ihram?

Selasa, 08 Mei 2012

Manfaat serta Khasiat Undur Undur

Manfaat serta Khasiat Undur Undur

Manfaat serta Khasiat Undur Undur



Kalau anda pernah tinggal didesa, atau memeng orang desa, pasti pernah tau hewan yang namanya undur-undur. Hewan kecil ini suka hidup di tanah berdebu/berpasir dan mudah dikenali dari ‘rumahnya’ yang berbentuk kerucut terbalik.


 Kontruksi rumah seperti ini bukannya tanpa tujuan. Bentuk kerucut terbalik ini para undur-undur sengaja dibuat untuk menjebak hewan yang lebih kecil, misalnya semut, sebagai santapan sehari-hari mereka.


 Cara berburu undur-undur cukup mudah bisanya anak – anak mengikat kaki undur – undur sebagai pancingan untuk menangkap undur – undur yang lain dengan cara memasukkan undur-undur yang sudah terikat tadi pada pusaran pasir yang diduga sebagai sarang undur-undur, sehingga undur-undur yang ada dalam sarangnya akan terangkat setelah dicengkram undur yang tadi sudah diikat. Siapa sangka hewan yang sering bersembunyi didalam tanah/pasir ( dapat kita jumpai bila pasir/tanah kering berbentuk seperti pusaran )dan sekecil kutu anjing ini mampu mengatasi  diabetes.Ternyata undur-undur sangat berkhasiat dalam pengobatan.


Binatang undur-undur ini merupakan binatang unik yang sering kita lihat dan biasanya bisa kita temukan di tempat berpasir kering, umumnya di desa ( bukan dikota). Ternyata undur-undur ini bisa menjadi obat mujarab menyembuhkan penyakit diabetes.

Binatang kecil sering kita jumpai di sekitar rumah berhalaman pasir itu ternyata bisa menurunkan gula darah. Berdasarkan penelitian diketuai Tyas Kurniasih dari Universitas Gadjah Mada Jogjakarta berjudul Kajian Potensi Undur-Undur Darat (Myrmeleon sp) 2006, binatang ini mengandung zat sulfonilurea. Kerja sulfonylurea pada undur-undur adalah melancarkan kerja pankreas dalam memproduksi insulin.


 Karena, ketika insulin dalam tubuh manusia menurun sementara kadar glukosa darah meningkat, maka terjadi ketidak seimbangan. Padahal insulin diperlukan untuk mengubah glukosa(gula darah) menjadi glikogen (gula hati/gula otot). Ini berakibat kadar glukosa dalam darah menjadi tinggi sedemikian rupa, kelebihan glukosa tadi terbuang bersama air kencing. Makanya penyakit ini disebut kencing manis.


  Dimana insulin sebagai penghasil energi tubuh terus berkurang. Akibatnya, tubuh mudah terserang penyakit. Sulfonilurea termasuk agen oral hipoglikemik ( zat yang berfungsi menurunkan glukosa darah) pada pengidap diabetes tipe-2.

Dr. Budi sering meresepkan undur-undur untuk mengatasi gangguan gangren akibat kadar gula darah tinggi. Dalam teori TCM, kata Dr. Budi, serangga ini berkhasiat melancarkan peredaran darah. Hewan ini mirip cacing tanah dan lintah yang dapat menembus atau menghancurkan gumpalan-gumpalan dalam pembuluh darah. Diyakininya undur-undur dapat membuat regenerasi sel menjadi lebih baik.


Sulfonylurea yang terkandung di dalam undur-undur merupakan zat yang sama dengan sulfonylurea yang selama ini digunakan di dalam obat DM buatan. Undur-undur dengan sulfonylurea-nya ternyata juga dapat mengobati DM dengan cara kerja yang sama dengan obat DM yang pernah ada. Sulfonylurea dalam bentuk antidiabetik oral hanya cocok untuk mengobati DM tipe 2 karena cara kerjanya memperbaiki kerja pankreas dalam mensekresikan insulin, sedangkan pada penderita DM tipe 1, pankreasnya sudah tidak dapat memproduksi insulin secara permanen.

Pada penderita DM tipe 2, terdapat tiga kondisi abnormal yang mungkin dimiliki. Pertama; mutlak kekurangan insulin dalam arti sekresi hormon insulin berkurang karena kerusakan sel-sel beta pankreas. 


Kedua; relatif kekurangan insulin dimana sekresi insulin tidak mencukupi dengan adanya kebutuhan metabolisme yang meningkat (misalnya pada pasien yang kelebihan berat badan).


 Ketiga; resisten terhadap insulin dan hiperinsulinemia karena penggunaan insulin perifer yang kurang sempurna.Menurut Siswandono dan Sukarjo (1995:709), turunan sulfonylurea dapat merangsang pengeluaran insulin pankreatik, menurunkan pemasukan insulin endogen ke hati dan menekan pengeluaran secara langsung insulin endogen ke hati dan menekan secara langsung glukagon. Semua obat golongan sulfonylurea merupakan antidiabetik oral.

Cara mengonsumsinya ada 2 macam:
 
1. Langsung ditelan sebanyak 3-5 ekor, sehari 2 kali.

2. Dimasukkan ke dalam kapsul, lalu di minum sehari 2 kali ( pagi dan sore).
undur-undur yang akan dikonsumsi itu harus dalam keadaan hidup. Undur-undur bisa bertahan hidup di dalam kapsul selama 4 jam. Undur-undur yang sudah mati, khasiatnya akan jauh berkurang.

Kandungan dan Manfaat / Khasiat Bunga Tapak Dara

Kandungan dan Manfaat / Khasiat Bunga Tapak Dara

Kandungan dan Manfaat / Khasiat Bunga Tapak Dara
Kandungan dan Manfaat / Khasiat Bunga Tapak Dara- Bunga Tapak Dara dengan nama latinnya yaitu Catharanthus roseus sering digunakan sebagai tanaman hias karna bunganya yang indah dan menawan, bunga yang berasal dari daerah madagaskar ini mempunyai dua warna yaitu warna putih dan warna merah. Tumbuhan ini tingginya bisa mencapai 100 cm dan tumbuh di daerah yang beriklim tropis.
Akar, batang, daun dan bunganya mengandung  unsur zat kimiawi yang sangat bermanfaat bagi pengobatan diantaranya zat vinkristin, vinrosidin, vinblastin dan vinleurosin yang merupakan kandungan komposisi zat alkaloid dari tapak dara. Bunga Tapak Dara ini mempunyai banyak khasiat bagi kesehatan diantaranya bisa mengobati penyakit Diabetes mellitus, hipertensi atau tekanan darah tinggi, leukemia, asma dan lain sebagainya.
Berikut ini khasiat tapak dara serta cara pemakaiannya :
  • Diabetes mellitus : 6-10 lembar daun tapak dara direbus sampai mendidih dengan air sebanyak 3 gelas , setelah dingin kemudian diminum, Ulangi sampai sembuh
  • Hipertensi atau tekanan darah tinggi : 15-20 gram daun tapak dara yang sudah dikeringkan ditambah dengan 10 gram bunga krisan, kemudian direbus dengan air sebanyak 2.5 gelas, disaring lalu diminum setiap sore .
  • Leukemia : Tapak dara yang sudah dikeringkan sebanyak 20-25 gram ditambah adas pulawaras, rebus dengan air 1 liter kemudian disaring. Setelah dingin diminum 2 kali sehari , pagi dan sore.
  • Asma dan Bronkhitis : 1 patong bonggol akar tapak dara direbus dengan air sebanyak 5 gelas, dinginkan lalu diminum 2 kali sehari, pagi dan sore.
  • Demam : 12-20 gram daun tapak dara serta 3 potong akar dan batangnya direbus dangan 4 gelas air sampai mendidih hingga tersisa 1.5 gelas, diminum pagi dan sore ditambah gula kelapa.
  • Radang perut dan disentri : Daun tapak dara yang sudah dikeringkan sebanyak 15 -30 gram, kemudian direbus dengan air sebanyak 3 gelas sampai mendidih, lalu diminum pagi dan sore sambil ditambahkan gula kelapa.
  • Kurang Darah : 4 Putik bunga dara putih, direndam dengan air bersih sebanyak 1 gelas kemudian ditaruh di luar semalam, lalu diminum secara teratur setiap pagi.
  • Tangan gemetar : 4-7 daun lembar tapak dara diseduh dengan menggunakan air panas, saring kemudian diminum biasa.
  • Gondong, Bengkak, Bisul dan Borok : ambil 1 genggam daun tapak dara, ditumbuk sampai halus kemudian tempelkan pada bagian yang luka.
  • Luka Bakar : Daun tapak dara ditambah segenggam beras direndam dengan air lalu ditumbuk sampai halus, kemudian ditempelkan pada bagian yang terkena luka bakar.

Minggu, 29 April 2012

Kita Hanya Tau Apa Yang Kita Inginkan, Bukan Yang Kita Butuhkan


Kita Hanya Tau Apa Yang Kita Inginkan, Bukan Yang Kita Butuhkan



Alhamdulillaah…..

Segala Puji bagi Allah Tuhan Seru sekalian alam.Tuhan Yang Maha Rahman.Maha Rahim.. Shalawat serta salam senantiasa tercurah untuk kekasih Allah,Muhammad Rasulullah Shallahu 'alaihi wassalam.Allahumma Shalli wa Salim Ala Sayyidina Muhammadin wa Ala aali Sayyidina Muhammadin fi Kulli Lam Hatin wa na Fasinn bi'adadi Kulli Ma'lu Mil Lak.

Ya alloh..Ajarilah kami bagaimana memberi sebelum meminta,berfikir sebelum bertindak,santun dalam berbicara,tenang ketika gundah,diam ketika emosi melanda,bersabar dalam setiap ujian.Jadikanlah kami orang yg selembut Abu Bakar Ash-Shiddiq,sebijaksana Umar bin Khattab,sedermawan Utsman bin Affan,sepintar Ali bin Abi Thalib,sesederhana Bilal,setegar Khalid bin Walid radliallahu'anhumáƒĤAmiin ya Rabbal'alamin.

Kita hanya tau apa yang kita inginkan,bukan yang kita butuhkanKetika kita dilanda kebimbingan..Dihadapkan pada pilihan yang sulit...

Sebenarnya hati kita sendiri telah memiliki jawaban apa yang sebenarnya kita inginkan..Tetapi hati ada kalanya dimasuki oleh bisikan syaitan..Dan kita hanya tau apa yang kita inginkan..Sedangkan terkadang kita tidak tau apa yang kita butuhkan...

Beberapa hari yang lalu,,seseorang mengingatkan aku bahwa

“Jika ada sepatu yang begitu kita sukai, tetapi ukuran sepatu itu tidak cukup dengan kaki kita..Apakah kita akan tetap memaksa membelinya??

Tentu tidak kan jawabannya..Seperti realita kehidupan kita sehari - hari..sadarkah kita bahwa Terkadang ada kalanya kita memaksakan kehendak kita..

Jika Allah tidak mengambulkan do'a kita..kita akan marah dan berpikiran..

“Mengapa Allah tidak memberikan apa yang aku inginkan?Mengapa Allah tidak menyayangiku?”

Padahal sadarkah sahabat, bahwa biasanya kita tidak mengetahui makna dari kejadian yang Allah berikan, pada saat itu juga..Tetapi terkadang membutuhkan waktu,,mungkin sehari,sebulan,setaun,atau bertahun – tahun dari kejadian itu..

Mungkin Allah ingin kita belajar untuk lebih kuat..Belajar untuk lebih sabar..Belajar untuk lebih bersyukur..Belajar untuk Memahami,Dan akan tiba suatu saat di mana Allah akan menunjukkan bahwa yang Dia berikan kepada kita adalah yang terbaik..

Memang belum tentu yang kita inginkan,tetapi selalu yang kita butuhkan..Dan ketika Allah telah menunjukkan petunjuknya..kita akan berkata..Alhamdulillah..Segala Puji Bagimu Ya Allah..Tuhan Semesta Alam..

Allah Yang Maha Mengetahui Apa yang tidak kami ketahui...

Terima kasih Ya Allah,kini kami paham bahwa semua yang Engkau berikan adalah yang terbaik..

Engkau ingin kami menjadi lebih kuat lagi,agar semakin siap dan tangguh dalam menghadapi cobaan dari-Mu selanjutnya..

Ketika kita meminta Kekuatan…

Allah memberi kita ujian untuk kita hadapi agar membuat kita semakin kuat.

Ketika kita meminta Kesuksesan…

Allah memberi kita kegagalan agar kita mampu belajar u/ sukses.

Ketika kita meminta beberapa kelebihan…

Allah memberi kita kekurangan agar kita memahami arti kelebihan

Ketika kita meminta kebijaksanaan…

Allah memberikan kita masalah2 yg harus kita pecahkan.

Ketika kita meminta kemakmuran…

Allah memberikan otak dan kekuatan untuk bekerja.

Ketika kita meminta Keberanian…

Allah memberi kita rintangan2 untuk kita hadapi agar kita lebih berani.

Ketika kita meminta Cinta…

Allah memberikan orang2 yg dalam kesulitan untuk kita bantu.

Ketika kita meminta pertolongan…

Allah memberi kita kesempatan

“Allah tidak selalu memberikan apa yang kita inginkan melainkan Allah memberikan apa yang kita butuhkan”

so selalu positif thinking tentang apa yang terjadi dalam hidup kita..

Allah Maha Tau apa yang terbaik buat kita…

Tetap semangat menjalani proses hidup….

Bimbinglah hati kami Ya Allah..

Agar kami semakin mantap berada di jalan-Mu yang lurus..

Aamiin ya Rabbal'alamin