Minggu, 27 Mei 2012

" MANAJEMEN DALAM RUMAH TANGGA "

Manajemen dan Kepemimpinan dalam Rumah Tangga


James A.F. Stoner


Manajemen adalah suatu proses perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengendalian upaya dari anggota organisasi serta penggunaan semua sumber daya yang ada pad
a organisasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.

Mary Parker Foller


Manajemen sebagai suatu seni karena untuk melakukan suatu pekerjaan melalui orang lain dibutuhkan keterampilan khusus.


Nickels, McHugh and McHugh


Manajemen adalah sebuah proses yang dilakukan untuk mewujudkan tujuan organisasi melalui rangkaian kegiatan berupa perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian orang-orang serta sumber daya organisasi lainnya.


Jadi, dari pendapat ketiga buyutnya manajemen di atas bisa disimpulkan keywordnya adalah : PROSES, ORGANISASI, PEMIMPIN, ANGGOTA, SUMBERDAYA, SENI DAN SKILL, TUJUAN.


Jika dihubungkan dengan kehidupan berumah tangga, pastilah proses itu adalah pernikahan, organisasi adalah rumah tangga, sumberdayanya adalah manusia, ruang, waktu, dan asset, seni dan skill (butuh juga loh – mendidik anak, menjadi menantu idaman mertua, memasak, mengelola keuangan dalam rumah tangga, dsb), serta tujuan pernikahan.


Sedangkan kepemimpinan dalah kapasitas mengendalikan diri dan lingkungan untuk mencapai cita-cita. Kepemimpinan dalam sebuah rumah tangga dipegang oleh qawam (suami). Untuk mewujudkan tujuan keluarga dibutuhkan adanya kejelasan visi berupa keteladanan dalam perjuangan, seni mengalokasikan sumber daya yang dimiliki, dan siklus kerangka kerja. Sebagaimana telah disebutkan dalam QS An Nisa 34 
:


“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang ta’at kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka) . Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya , maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menta’atimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” 



Konsekuensinya :


Pertama, kepemimpinan yang diterapkan dalam sebuah keluarga haruslah terbuka dan egaliter, tak ada istilah “Surgo nunut, neraka katut”. Sehingga sangat perlu diterapkan fungsi manajemen yang banyak dikenal masyarakat saat ini yaitu perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pengarahan (directing), dan pengendalian (controlling).


Kedua, menciptakan kesepakatan up in front, hold on it. Kesepakatan seperti panggilan, boleh nggak istri berkarir, rumah nunut ortu atau beli sendiri, izinnya gimana, harus dimasukkan ke dalam agenda malam pertama. Seperti yang dulu saya pernah tulisan di artikel “psikologi adam dan hawa”. Bagi yang sudah lama menjalin hubungan tanpa status (alias pacaran) harusnya lebih mantap dong untuk menikah. Apalagi yang sudah bertahun-tahun (habis berapa duit tuh buat jalan, beli pulsa, nraktir makan ngasi kado. Tapi kalo buat nikah dibilangnya nggak punya duit. Hmm sungguh terlalu). Yang ditunggu apa?


Lima prinsip dasar dalam membuat kesepakatan : basis yang kuat, selalu ada opsi, mencari efisiensi, ada keluwesan, sadar keterbatasan (penjelasan lebih detil next time, insyaallah).


Ketiga, mengalokasikan sumber daya. Baik yang berupa keluarga, ruang dan waktu, uang dan harta benda lainnya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar