Kupinang Kau dengan Basmalah, Kucerai Kau dengan Hamdalah
Mudahnya bilang cinta…
Hanya karena suka…
Tak terasa terlena….
Banyak hati kecewa…
Sepenggal lagu dari Dewi Yull (eh ternyata Andi Meriem) ini bila tak
dilanjutkan ke bait berikutnya agak kontekstual dengan apa yang ingin
saya tulis kali ini. Tentang orang-orang yang begitu mudahnya memutuskan
untuk menikah, semudah memutuskan untuk bercerai.
Tentu semua
yang terjadi, termasuk pernikahan dan mungkin perceraian, adalah
kehendak-Nya. Namun pada satu sisi, semua juga terjadi berdasarkan
hukum kausal. Ada sebab musababnya hingga kemudian itu semua terjadi.
Saya punya kerabat. Dia menikah setelah 7 atau 8 tahun berpacaran.
Semua yang menyangkut pesta pernikahan dipersiapkan dengan matang.
Gedung, mas kawin, seserahan, undangan, seragam untuk keluarga, among
tamu dan lain sebagainya. Hingga kerabat saya ini menyewa jasa wedding
organizer demi memastikan jalannya pernikahan itu sempurna. Pernikahan
pun berlangsung lancar.
Mas kawin pun bukan yang biasanya
diterapkan orang-orang. Bila orang Islam biasanya memberikan mas kawin
berupa Alquran dan alat perlengkapan salat, dengan tujuan agar Alquran
menjadi pegangan hidup dan salat tak pernah ditinggalkan, sehingga akan
ikut menjaga akhlak, kerabat saya ini memberikan mas kawin yang cukup
unik dan spesial: sebuah buku/novel berjudul “Kupinang Kau dengan
Basmalah”. Belakangan setahu saya buku ini diadaptasi dalam bentuk
sinetron di layar gelas dengan judul sama.
Namun lamanya
pacaran, persiapan pesta yang matang, mas kawin yang unik, ternyata
bukan jaminan untuk langgengnya pernikahan. Belum genap setahun
menikah, pasangan kerabat saya itu sudah tidak “berkumpul” alias pisah
ranjang. Mereka dikaruniai satu anak. Namun keberadaan anak semata
wayang itu pun tak menjadi alasan keduanya untuk tunduk pada ikatan
pernikahan. Ego pribadi tetap mendominasi. Mereka pun menempuh perbuatan
yang walau halal namun dibenci Tuhan: BERCERAI. Perceraian secara resmi
terjadi di tahun ke-4 pernikahan.
Anak mereka yang baru 3
tahun itu pun menjadi korban perceraian yang tak bisa dihindarkan. Maka
mas kawin berupa novel “Kupinang Kau dengan Basmalah” akhirnya layak
diganti judulnya dengan “Kucerai Kau dengan Hamdalah”.
Singkat
cerita, belum setahun berselang semenjak perceraian, pasangan yang sudah
bercerai ini menemukan pasangan pengganti masing-masing. Mereka sudah
sama-sama menikah sekarang. Sekali lagi saya melihat persiapan pesta
pernikahan yang begitu terencana. Dari gedung, baju pengantin, cincin
kawin, seragam among tamu, seserahan dipersiapakn secara matang. Bahkan
kerabat saya ini sebelum ijab kabul “terpaksa” membeli mobil dan
perabotan rumah tangga yang semuanya baru, karena pasangan barunya
mensyaratkan hal tersebut. Dia tak mau menyentuh apapun yang pernah
disentuh mantan pasangan kerabat saya.
Malah yang saya lihat,
persiapan pernikahan kedua ini lebih heboh. Bila pada pernikahan yang
pertama dulu cukup 2 kali yaitu sekali ijab kabul dan langsung walimah
di tempat pengantin putri serta sekali di tempat pengantin laki-laki,
kini pestanya berlangsung 4 kali. Pesta midodareni di rumah pengantin
puteri, lalu ijab kabul di sebuah masjid terkemuka yang dipaskan dengan
hari ulang tahun pengantin perempuan, dengan mas kawin berupa perhiasan
yang takaran beratnya juga merupakan simbol tanggal-bulan-tahun
pernikahan. Kemudian pesta resepsi besar-besaran yang berlangsung 2
bulan kemudian, dan pesta ngundhuh mantu di tempat pengantin laki-laki.
Yang bikin hati saya perih, anak dari kerabat saya itu saat pesta
“disembunyikan”, karena pengantinnya takut si anak yang masih Balita
mengganggu pesta pernikahan. Sementara bukan sekali-dua kali saya
melihat pesta-pesta pernikahan para janda dan duda beranak, anak mereka
ada di tengah-tengah pesta. Mereka tidak jaim, dan keberadaan anak di
pesta pernikahan terlihat alami, tidak menganggu. Kalaupun itu terjadi,
ya wajarlah karena masih anak-anak.
Saya kira patut disayangkan
ketika pasangan menikah lebih mementingkan persiapan agar pesta
pernikahan agar berlangsung sempurna, serta hal-hal yang bersifat
simbolis lainnya. Namun di lain pihak mereka malah melupakan esensi
pernikahan itu sendiri, yaitu persiapan mentalitas. Menikah itu bukan
sekadar masalah pesta, lalu selesai.
Setelah pesta usai, dan
tamu undangan pulang, riasan pengantin akan dihapus. Dekorasi dibongkar.
Baju pengantin ditanggalkan. Undangan yang dilengkapi foto narsis pre
wedding sudah kedaluwarsa. Sebagai gantinya, mereka akan mengarungi
hidup bersama, menyatukan dua kepala, dua hati yang berarti dua ego
yang berbeda. Menikah adalah menyatukan perbedaan. Menikah adalah saling
menerima, bukan hanya menerima kelebihan, namun juga kelemahan
pasangan. Bila pasangan punya anak, anak harus diterima dan diperlakukan
seperti anak sendiri. Apakah mereka siap?
Bila belum-belum
anak sudah “disembunyikan” karena jaim ditambah kekhawatiran akan
mengganggu, saya tidak berani menjamin apakah si mungil itu tidak akan
diperlakukan sebagai pengganggu di hari-hari berikutnya? Sungguh malang
nasib si anak.
Melalui postingan ini saya hanya ingin
mengingatkan, bahwa persiapan mentalitas sebaiknya diutamakan dalam
pernikahan. Lebih baik melangsungkan pesta yang sederhana, namun
menjalani pernikahan dengan dengan sempurna. Daripada mempersiapkan
pesta yang sempurna, lalu menjalani pernikahan ala kadarnya.
Membuat pesta pernikahan yang heboh tentu tak ada salahnya. Merencanakan
pesta yang sempurna adalah keinginan setiap pengantin. Namun sebaiknya
itu semua diiringi dengan kesiapan hati dan jiwa untuk menjalani dan
menjaga pernikahan tetap langgeng, hingga ajal menjemput. Caranya?
- Mampu meredam ego masing-masing. Menjadikan kepentingan salah satu menjadi kepentingan bersama. Tak ada lagi saya dan kamu, kini adanya: “kita” dan “kami”.
- Menerima kelebihan dan kekurangan pasangan.
- Merangkul keluarga pasangan dan memperlakukannya seperti keluarga sendiri.
- Mencintai anak pasangan (bila ada) sebagaimana mencintai anak sendiri.
- Ketika ada masalah, selalu mengingat kenapa dulu memutuskan untuk menikah, dan bukan sibuk mencari-cari alasan untuk bercerai.
Ada lagi satu tips yang berdasaran pengalaman saya pribadi selama mengarungi pernikahan.
- Bila ada masalah, cara untuk meredamnya adalah DIAM untuk sementara . Untuk beberapa waktu kami memilih diam. Ternyata waktu adalah obat yang baik untuk me-recovery emosi yang tak stabil.
- Jangan pulang
dan melibatkan orangtua dalam masalah. Sekali melibatkan orangtua, tentu
orangtua akan berpihak pada kita. Orangtua tak akan bisa bersikap
netral. Tanpa menyelami apa yang sebenarnya terjadi, tentu semua
orangtua akan membela kepentingan anaknya. Melibatkan orangtua dalam
masalah kita akan memperunyam keadaan.
Berapa banyak kita saksikan
para public figur yang menikah hanya seumur jagung. Padahal pernikahan
itu dipersiapkan dengan penuh kemewahan, dan heboh sebagaimana laporan
infotainment. Begitu mudah menikah. Begitu mudah pula bercerai. Semoga
kita tidak seperti itu. Kalaupun perceraian terjadi, semoga menjadi
pelajaran berharga, dan pasangan-pasangan itu memperbaiki diri,
mengoreksi kesalahan di masa lampau, untuk merenda hari esok yang lebih
baik.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar